Jakarta, Selular. ID – Jaringan 5G tengah menjadi proyek yang dibincangkan penuh kalangan. Meski masih dalam periode pengembangan dan belum dikomersialkan, negeri Indonesia mengaku terus menyiapkan infrastruktur serta regulasi untuk mengaturnya.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) yang terkait dengan order tersebut pun menyiapkan frekuensi yang nantinya dimanfaatkan untuk mengadopsi jaringan 5G. Sementara salah satu kaidah yang akan menunjang teknologi jaringan terbaru ini adalah soal Level Kandungan Dalam Negeri (TKDN) di dalam perangkat yang memakai teknologi 5G. Aturan TKDN khusus untuk 5G bisa serupa turunannya dengan susunan pada perangkat 4G.

“Dari sisi TKDN, kita mau menerbitkan peraturan lanjutan dari dengan sudah dilakukan selain perangkat 4G, untuk perangkat 5G, yang selalu berlaku sama, ” ungkap Ismail, Dirjen Sumber Daya dan Set Pos dan Informatika Kemenkominfo, di dalam Selular Digital Outlook, Rabu (16/12/2020).

Aturan TKDN perangkat telekomunikasi 4G LTE tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 65 tahun 2016 tentang Ketentuan dan Aturan Penghitungan Nilai Tingkat Bagian Dalam Negeri (TKDN) Produk Telepon Seluler (Ponsel), Komputer Genggam (Handheld) dan Komputer Tablet.

Aturan ini mengatur nilai persentase komponen produksi buatan Indonesia dengan dipakai dalam sebuah produk berbasis jaringan 4G LTE. Setiap produk yang memiliki teknologi 4G harus memiliki nilai komponen TKDN 30 tip. Komponen tersebut bisa saja hardware, software atau gabungan keduanya, serta komponen investasi.

Tersedia tiga aspek TKDN yang piawai dipenuhi oleh produsen smartphone ijmal untuk memasarkan produknya berbasis 4G di Indonesia. Pertama aspek hardware, kedua dengan menekankan aplikasi (software) dan ketiga melalui investasi.

Menyoal aplikasi dijelaskan Ismail, Kemenkominfo kini tak lagi berfokus pada teknis penerapan 5G, tetapi pada aplikasi yang bisa membakar perkembangan industri di Indonesia.

“Industri ICT tidak semata-mata industri hardware. Tapi dibutuhkan partisipasi aktif Indonesia terbuka luas karena use case atau jenis ideal aplikasi yang dibutuhkan oleh keinginan Indonesia itu cukup khas dengan belum tentu bisa diselesaikan oleh impor atau barang-barang dari luar negeri. Disitu ada kombinasi kurun kebutuhan hardware dan kebutuhan pelaksanaan yang seharusnya menjadi pertimbangan teman-teman industri agar pemanfaatan lokal kian banyak, ” paparnya.

Ismail mengatakan peraturan TKDN istimewa 5G dilakukan untuk tetap menjunjung industri perangkat telekomunikasi di Nusantara. Dengan adanya TKDN, Indonesia tidak hanya menjadi pasar, namun juga turut berpartisipasi sebagai pelaku yang mampu memanfaatkan 5G semaksimal agak-agak.

Lebih lanjut Ismail menjelaskan Kemkominfo akan berkoordinasi secara Kementerian Perindutrian (Kemenperin) bersama para-para stakeholder untuk mendiskusikan aturan TKDN perangkat 5G.

Selain perangkat, Ismail juga menyinggung soal teknologi baru yang disebut Peduli Radio Access Network (Open RAN). Open RAN adalah teknologi sebab sisi Base Transceiver Station (BTS) yang dibeli secara langsung sebab operator dalam bentuk sistem oleh karena itu.

Open RAN menelungkupkan peluang sebagian perangkat tidak teristimewa berbentuk hardware saja namun sebagian dalam bentuk kombinasi dengan software. Potensi Open RAN akan tumbuh di era 5G karena operator ingin memiliki nilai ekonomi yang tinggi dari jaringan yang dikelolanya.

“Ada jutaan kebutuhan BTS baru, paling tidak ratusan ribu BTS baru yang kudu karena kerapatannya sangat tinggi buat 4G dan 5G-ready. Teknologi Peduli RAN sangat menjanjikan sehingga kawasan industri dalam negeri untuk mengikuti di teknologi BTS terbuka luas, ” imbuhnya.

Pengembangan teknologi Open RAN, disampaikan oleh Bobby Rizaldi, Komisi 1 DPR RI, di satu sisi membawa dampak positif karena teknologi 5G bisa menerapkan kebijakan spektrum sharing BTS, namun di sisi asing harus memperhatikan aspek keadilan serta kepentingan nasional.

“Dengan sharing BTS, merdeka sinyal mampu tercapai. Tapi di lain sisi, bagi pelaku spektrum bisa mendapatkan reward sesuai investasinya. Jangan serupa margin yang diterima oleh investor hanya mau di tempat dengan bagus, tapi tidak mau membikin di frontier atau perintis tersebut – sama. Pasti harus tersedia reward dan insentif. Jadi Peduli RAN ini bagus dari sisi merdeka sinyal. Tidak ada blank spot dimana-mana dan meningkatkan trafik yang bisa mencerdaskan bangsa, ” pungkas Bobby.