Jakarta, Selular. ID – Raksasa elektronik LG kesudahannya mengumumkan langkah drastis. Berangkat bulan ini, perusahaan membatalkan tak lagi berbisnis smartphone. Kerugian yang terus mendesak membuat LG harus putar haluan. Seperti dikutip Reuters, selama hampir enam tahun terakhir kerugian yang diderita divisi mobile perusahaan langsung membengkak. Tak tanggung-tanggung, berkisar $ 4, 5 miliar.

Keputusan sah yang diambil pada Senin (5/3/2021), menjadikan LG jadi merek smartphone besar perdana yang sepenuhnya menarik diri dari pasar. LG menjadi korban dari kerasnya persaingan, khususnya di era internet cepat yang telah   memicu banyaknya pesaing gres, terutama vendor-vendor asal China.

Sejauh ini, pasar yang masih pas kuat dikuasai LG merupakan Amerika Utara. Di tempat itu, LG masih menghaki 10% pangsa pasar anugerah program bundling dengan operator setempat. Selain Amerika Melahirkan, LG memiliki kehadiran yang cukup besar di Amerika Latin. Vendor mampu memasukkan peringkat lima.

Sayangnya pencapaian itu berkebalikan di pasar global. Agresifitas vendor-vendor China membuat LG layaknya ayam sayur, saja menguasai 2%. Penurunan yang sangat besar dari statusnya sebagai pembuat smartphone terbesar ketiga di dunia sesudah Samsung dan Apple semasa puncaknya pada 2013.

Menciutnya pangsa rekan itu, tercermin dari kepandaian LG yang hanya dapat mengirimkan 23 juta unit ponsel pada tahun lalu, dibandingkan dengan 256 juta yang dikirimkan kompatriotnya Samsung, tambah Counterpoint.

Analis Counterpoint Tarun Pathak mengatakan LG sebagian mulia bersaing di kelas membuang yang terbilang sudah lengkap sesak. Sehingga mundurnya LG, akan memberikan kesempatan pada para pesaing berbagi market share yang ditinggalkan.

“Sebagian besar tanda China dan kelas menengah akan mendapat manfaat mencuaikan keluarnya LG. Di pasar utamanya seperti AS – Samsung, Motorola, HMD beberapa besar (ZTE, Alcatel di dalam tingkat yang lebih rendah) akan diuntungkan. Sementara Xiaomi, Motorola akan diuntungkan di Amerika Selatan. Sedangkan Samsung akan mengambil alih rekan Korea, ” Pathak menambahkan.

Stagnan Suri

Mundurnya LG pada pasar smartphone sejatinya sudah dirumorkan sejak beberapa tarikh terakhir, termasuk pasar Nusantara. Sejak 2018, bisnis smartphone LG sudah dibilang pasif suri. Diketahui, tidak ada ponsel yang dirilis LG sejak LG G7+ ThinQ diperkenalkan pada akhir Mei 2018. Begitu pun era vendor memperkenalkan BTS LG K9 pada Juni 2018.

Tak bisa dipungkiri, kerugian yang tetap mendera membuat LG tidak seagresif seperti dulu di dalam memasarkan produk baru. Real brand-brand China, seperti Oppo, Vivo, Realme, Xiaomi dan Huawei, tengah gencar-gencarnya melucurkan banyak smartphone baru di berbagai segmen. Semua tersebut dibarengi dengan seabreg aktifitas pemasaran demi memperkuat brand image .

Di pusat rumor yang beredar cepat, LG menampik bahwa mereka akan hengkang dari Indonesia. LG mengklaim hanya rehat sebentar karena perusahaan tengah fokus untuk menghadirkan smartphone 5G yang handal.

Hal itu disampaikan oleh Seungmin Park, President Director LG Electronics Indonesia, di sela-sela peluncuran rentetan produk rumah tangga terbaru LG di Jakarta, Kamis (11/4/2019).

“Sebenarnya saat ini kami sedang menantikan 5G. Sebentar sedang ‘kan akan hadir. Secara adanya 5G kami bakal mempersiapkan lagi smartphone untuk Indonesia, ” ujar Seungmin.

“Kami ingin memberikan teknologi smartphone yang paling baru untuk Indonesia, ” imbuhnya.

Ketika disinggung mengenai tipe dan perkiraan waktu peluncuran smartphone 5G LG pada Indonesia, Seungmin Park mengutarakan, “Itu belum diputuskan. ”

Kinerja LG yang tak menggembirakan, nyata terbilang anomali. Pasalnya, LG telah lama beroperasi dalam Indonesia. Vendor terus terkebat dalam perkembangan industri selular sejak era 2G, 3G, hingga 4G. Bahkan pernah mengalami masa-masa jaya

Meski belum sudah mencapai tiga besar, tetapi sejumlah ponsel LG pernah menjadi buruan masyarakat, khususnya kalangan menengah atas. Ucap saja, LG Prada yang diperkenalkan pada 2011-2012. Ponsel yang tergolong fashion phone ini terbilang laris indah. Tidak saja di pasar global, namun juga di Indonesia.

Mengambil era smatphone dan internet cepat, LG juga begerak cepat. Produk-produk LG tak kalah dengan pesaing. Tengok saja varian LG G3 yang terbilang laris indah di pasar. Sejak diperkenalkan pertama kali pada awal 2013, LG G3 berpunya menjadi mesin pertumbuhan. Berkah LG G3, LG mampu meraup keuntungan sebesar USD 440 juta atau setimpal dengan Rp 5, 34 triliun sepanjang kuartal ke-3 2014.

Sejenis pun dengan suksesornya LG G5, smartphone pertama dengan mengusung konsep bongkar-pasang atau lebih akrab disebut modular . Sayangnya, penjualan LG G5 terbilang mengecewakan. Manajemen LG secara resmi mengungkap bahwa mutlak penjualan G5 tidak memenuhi ekspektasi. Sehingga pada varian selanjutnya, yakni LG G6 perusahaan tak lagi mengetengahkan konsep yang serupa.

Di sisi lain, kudu diakui  brand value   LG sedang belum mampu menyamai kompetitor, khususnya segmen premium. Sehingga saat LG mengeluarkan G Series dan V30 Plus seharga Rp 9 – 10 jutaan, konsumen belum tertarik untuk membeli. Apa daya, hingga kini konsumen di segmen premium masih terpincut pada dua tanda utama, Apple dan Samsung. Huawei sempat menggebrak di segmen ini dengan Mate dan P Series. Tetapi belakangan karena sanksi GANDAR, performa Huawei langsung terlepas.

Ketidakmampuan sejajar di segmen premium, bakal tidak mau membuat LG harus membidik segmen menengah. Persoalannya, di segmen ini posisi dua brand sari, yaitu Oppo dan Vivo sudah sangat kuat. Jadi sulit bagi LG untuk mencuri pasar milik keduanya.

Bagaimana dengan segmen menengah bawah? Setali tiga uang dengan segmen lainnya. Segmen ini telah memiliki penguasa sendiri, yakni Xiaomi dan Infinix. Akhirnya Realme yang sebelumnya merupakan sub brand Oppo pula ikut meramaikan persaingan dan mulai mencuri perhatian konsumen. Sementara di segmen ua low end , brand-brand lokal seperti Advan masih menjadi pilihan konsumen.

Tahu pasar yang sudah terfragmentasi seperti itu, pada alhasil LG memang harus realistis. LG harus mengakui gaya pesaing, terutama dengan brand-brand China yang tengah mencetak momentum pertumbuhan. Ketimbang terus-terusan menjadi medioker di usaha smartphone, LG memang telah selayaknya fokus pada usaha elektronik khusunya home appliances , terutama segmen premium. Pasalnya andil penjualan elektronik dari bagian ini menyumbang 50 upah ke total pendapatan kongsi.