Jakarta, Selular. ID – Vendor peralatan yang berbasis pada Shenzhen, ZTE, mencatat kemajuan laba yang kuat di dalam paruh pertama 2021. Kongsi mencetak kenaikan pendapatan dua digit yang didorong oleh peningkatan tajam dalam bisnis konsumen.

Namun divisi operator yang sebelumnya merupakan kontributor utama tentu datar.
Dalam maklumat resminya, ZTE mengungkapkan bahwa laba bersih di semester pertama melonjak 134, dua persen menjadi CNY2, 11 miliar ($325, 7 juta). ZTE mengatakan upaya untuk mengoptimalkan struktur biaya membuahkan margin laba kotor naik 2, 7 poin bagian tahun-ke-tahun menjadi 36, satu persen.

Penerimaan operasional naik 12, 4 persen menjadi CNY53, 07 miliar, dengan penjualan domestik meningkat 13, 2 upah menjadi CNY35, 95 miliar. Omset internasional naik 10, 8 persen menjadi CNY17, 1 miliar, menyumbang 32, 3 persen dari total pendapatan (turun sedikit dibanding Semester 1 2020).

Pendapatan jaringan operator datar tahun-ke-tahun di CNY35, 05 miliar, karena permintaan domestik yang kuat diimbangi oleh ketidakpastian di sungguh China yang disebabkan sebab pandemi Covid-19 (virus corona), yang menurut perusahaan menerbitkan “tekanan dan tantangan yang cukup besar bagi investasi jaringan luar negeri, perkembangan 5G dan pembangunan jaringan dalam jangka pendek”.

Bisnis konsumen (consumer business), mampu mencatat kemajuan 66, 6 persen menjelma CNY12, 35 miliar, sebab pendapatan perangkat perumahan dan perangkat selular masing-masing terangkat lebih dari 90 tip dan 40 persen. Pendapatan dalam bisnis pemerintah dan perusahaan meningkat 17, 7 persen menjadi CNY5, 67 miliar, dengan produk server dan penyimpanan berlipat berpasangan dari tahun ke tarikh di pasar domestik.

Pengeluaran litbang di periode enam bulan meningkat 33, 5 persen menjelma CNY8, 86 miliar, secara pengeluaran sebagai persentase dibanding pendapatan operasional naik menjadi 16, 7 persen lantaran 14, 1 persen dalam periode yang sama pada tahun 22020.

Melonjaknya kinerja ZTE di dalam semester pertama tahun ini, melanjutkan tren positif dengan dicapai perusahaan pada 2020. ZTE membukukan kenaikan perolehan hingga dua digit sepanjang 2020. Meski pendapatan terangkat signifikan, perusahaan mengalami kemerosotan laba yang cukup pintar, merujuk pada tantangan yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 (virus korona) dan transformasi lingkungan eksternal.

Tercatat laba bersih sepanjang 2020 turun sebesar 15, 2 persen menjadi CNY4, 37 miliar ($ 674, 6 juta), dengan pendapatan operasional meningkat 11, tujuh persen menjadi CNY101, 4 miliar. Perusahaan tidak memecah pendapatan menurut divisi pada pendapatan awal. Namun perusahaan mengungkapkan bahwa profitabilitas meningkat pada kuartal terakhir 2020. Tercatat, laba bersih pada Q4 2020 naik 62, 2 persen tahun ke tahun menjadi CNY1, 66 miliar.

Tekanan AS
Peningkatan laba bersih maka dua kali lipat sepanjang 2021, menunjukkan perusahaan sudah mampu mengatasi tantangan, pertama persoalan geopolitik yang mengazab perusahaan sejak 2018. Seperti diketahui, ZTE terus masuk menjadi sasaran sanksi oleh Amerika Serikat.

Dimulai dengan sanksi keras yang dijatuhkan oleh Departemen Perdagangan AS pada awal 2018. Vendor jaringan serta perangkat telekomunikasi asal China itu, dinilai tidak mengindahkan perjanjian perdagangan dengan mengirim barang serta teknologi ke Iran dan Korea Mengetengahkan secara ilegal.

Hukuman yang diberikan berupa larangan bagi perusahaan-perusahaan AS untuk menjual komponen peralatan telekomunikasi kepada ZTE, semasa tujuh tahun. Imbas dari keputusan tersebut, ZTE diperkirakan menelan kerugian hingga US$ 2 miliar.

ZTE bahkan diwajibkan menunaikan penalti USD 1, 19 miliar. Besarnya denda mewujudkan ZTE nyaris kolaps. Beruntung, ZTE memperoleh kredit senilai CNY30 miliar (US$ 4, 7 miliar) dari Bank of China dan US$ 6 miliar dari bagian Bank Pembangunan China, Shenzhen. Dana tersebut menjadi modal bagi ZTE untuk kembali pulih dari kerasnya hukuman AS.

Tetapi, pasca sanksi yang dijatuhkan karena dinilai terlibat perniagaan ilegal dengan Iran dan Korea Utara, AS kembali menempatkan ZTE sebagai bahan bersama sederet perusahaan China lainnya. Pada Februari 2021, The Federal Communications Commission (FCC) menunjuk lima perusahaan China sebagai ancaman terhadap keamanan nasional yang berniat melindungi jaringan komunikasi GANDAR. Hal ini diatur di Undang-undang 2019.

UU 2019 mewajibkan FCC untuk mengidentifikasi perusahaan dengan memproduksi peralatan dan servis telekomunikasi yang menjadi kerawanan keamanan negara. FCC mengucapkan perusahaan-perusahaan yang masuk pada daftar hitam itu, tercatat Huawei Technologies Co, ZTE Corp, Hytera Communications Corp, Hangzhou Hikvision Digital Technology Co dan Zhejiang Dahua Technology Co.

“Yang terbukti menimbulkan efek maka tidak dapat diterima terhadap keamanan nasional A. S, ” kata Penjabat Ketua FCC Jessica Rosenworcel dalam sebuah pernyataan dikutip dari Reuters, Sabtu (13/2/2021).

Baca Serupa: ZTE: Membangun Ekosistem 5G yang Kuat Merupakan & #8216; Kunci& #8217; Kejayaan

Undang-undang 2019 menggunakan kriteria dari undang-undang otorisasi pertahanan yang sebelumnya mengidentifikasi lima perusahaan China. Pada Agustus 2020, negeri AS mengeluarkan pperaturan yang melarang agensi membeli bahan atau jasa dari lengah satu dari lima perusahaan Tiongkok.

Karena dinilai sebagai ancaman ketenangan nasional terhadap jaringan hubungan – Gedung Putih melarang perusahaan-perusahaan AS menggunakan uang pemerintah $ 8, 3 miliar untuk membeli bahan dari ZTE dan Huawei.