Jakarta, Selular. ID – Setelah manuver internasional terhadap Huawei dilontarkan para-para politisi AS dan Inggris di beberapa tahun terakhir, PM Inggris Boris Johnson akhirnya mengambil keputusan tegas.  

Dalam sebuah pernyataan resmi (15/7) yang dibacakan oleh Carik Negara untuk Digital, Budaya, Jalan dan Olahraga Oliver Dowden, Inggris pada akhirnya melarang sepenuhnya penerapan peralatan 5G milik Huawei.  

Operator diberikan waktu hingga 2027 kelak untuk menghapus jaringan yang sebelumnya sudah dibangun bersama Huawei. Keputusan tersebut diperkirakan akan menunda peluncuran teknologi jaringan baru antara besar dan tiga tahun, sekaligus menelan biaya tidak sedikit, diperkirakan menyentuh £ 2 miliar.

Di bawah Peraturan Keamanan Telekomunikasi baru, yang masih harus melewati persetujuan parlemen, tetapi sulit dihadang oleh pihak oposisi, operator tidak lagi diperkenankan untuk membeli peralatan 5G dari Huawei mulai akhir tahun ini.

Langkah dengan diambil Boris, dengan sendirinya menganulir kebijakan yang diluncurkan pada Januari lalu, yang membebaskan operator untuk menggunakan Huawei hingga 35 tip dari RAN 5G mereka, tetapi bukan pada jaringan inti. Tidak dapat dipungkiri, desakan kuat daripada Amerika Serikat, membuat Inggris menjelma goyah dan berujung pada kesimpulan yang tidak menguntungkan Huawei.  

Kaya diketahui, sejak Presiden Donald Trump berkuasa di Gedung Putih di dalam akhir 2016, kampanye menyudutkan Huawei secara massif dijalankan. Alasan kebahagiaan dan spionase, membuat sekutu-sekutu GANDAR bergerak mengikuti seruan Trump yang tak menginginkan vendor asal China itu, leluasa menjalankan bisnis semacam tahun-tahun sebelumnya.  

Seminggu sebelum keluarnya keputusan tersebut, dua operator selular Inggris, BT (British Telecom) dan Vodafone, mengungkapkan bahwa peralihan jaringan ke penyedia baru, bukan urusan sederhana. Dibutuhkan lima hingga tujuh tahun untuk melakukan pemindahan sempurna tanpa gangguan layanan.

Di sisi lain, Huawei dengan tegas menyatakan tidak ada bukti bahwa bisnis yang mereka jalankan merupakan ancaman bagi keamanan, sambil menambahkan bahwa pihaknya siap berkompetisi di pasar.

Dalam sebuah diskusi dengan media, Wakil Pemimpin Global Huawei Victor Zhang mengatakan, bahwa pihaknya ingin memperbaiki kecacatan informasi, termasuk pertanyaan seputar kepemilikannya, dan menyatakan “bebas dari pemerintah mana pun, termasuk pemerintah China”. Zhang mengklaim Huawei sebagai “perusahaan yang sangat transparan” dan mencetak perlunya kolaborasi untuk mengurangi risiko keamanan siber.

Keputusan Inggris menjegal Huawei, tentu saja menguntungkan para-para rivalnya. Ericsson misalnya, berada dalam jalur terdepan dalam memanfaatkan jalan tersebut. Vendor jaringan asal Swedia itu, tidak menyia-nyiakan waktu untuk menjadikan dirinya alternatif yang mampu menyelamatkan rencana peluncuran 5G sebati road map yang sebelumnya sudah disusun Inggris.

Menurut Arun Bansal, Presiden Divisi Eropa dan Amerika Latin Ericsson, pihaknya “memiliki teknologi, pengalaman, dan daya rantai pasokan” untuk membantu menciptakan “jaringan 5G terdepan di dunia bagi masyarakat, bisnis, dan ekonomi Inggris. ”

“Ericsson siap bekerja dengan operator Inggris untuk memenuhi rancangan mereka, tanpa mengganggu pelanggan”, cakap Arun.

Ia menambahkan keputusan pemerintah Inggris “menghilangkan ketidakpastian yang memperlambat keputusan investasi” di sekitar recana penggelaran 5G negara itu.

Beberapa jam pra pernyataan resmi, Huawei mengumumkan chairman mereka di Inggris John Browne telah berhenti. Dalam sebuah penjelasan, perusahaan mengatakan karya Browne sudah “terbukti vital dalam memastikan kontrak Huawei terhadap tata kelola perusahaan di Inggris” dan telah “menjadi pusat komitmen kami di sini sejak 20 tahun lalu”.

Sebelum pengunduran diri, Browne masih berusaha menegasikan pandangan tentang Huawei. Diantaranya dengan menerbitkan iklan satu halaman sempurna di surat kabar Inggris yang menyoroti peran Huawei dalam pendirian operator jaringan 3G dan 4G, di samping komitmen untuk menolong mencapai sasaran broadband gigabit negeri. Iklan tersebut diposisikan sebagai tulisan kepada masyarakat luas.  

Sayangnya, iklan yang diharapkan mempertahankan kepercayaan yang sudah dibangun selama ini tidak membuahkan hasil. Keputusan dengan diambil PM Boris Johnson di akhirnya menutup kiprah yang telah dibangun Huawei lebih dari 20 tahun di Inggris.  

Melongok ke belakang, kehadiran Huawei tak terlepas dari peran Ben Verwaayen, mantan kepala eksekutif BT. Ia mau mengubah jaringan telekomunikasi Inggris, mengubahnya dari sistem analog kuno ke digital yang mampu merutekan data dengan kecepatan tinggi, yang apalagi bisa membawa sinyal televisi.  

Tetapi ketika Ben mulai menghubungi distributor tradisional BT, seperti pembuat logistik Inggris Marconi dan GEC (General Electric Company), mereka tidak bentuk.  

Sebaliknya, Huawei, perusahaan Cina yang belum terbukti, bersedia bekerja dengan BT dalam proyek 10 miliar poundsterling.

Pada April 2005, Huawei memimpin kontrak untuk menyediakan perangkat yang mengagregasi jalur pelanggan dan menghubungkannya ke bagian utama jaringan.

Inggris memang bukan negara pertama Huawei memasuki pasar Eropa. Beberapa tahun sebelumnya, Belanda dan Perancis sudah menggunakan jasa Huawei dalam membangun jaringan 3G.  

Meski demikian, keberhasilan menaklukan pasar Inggris menjadi kredit tersisih bagi Huawei. Dari pembuat bahan yang tidak dikenal di China selatan, Huawei dapat menggunakan order yang dibangun bersama BT buat melegitimasi sistemnya di pasar Eropa lainnya.  

Pada akhirnya hanya pada tempo 15 tahun kemudian, Huawei telah menjelma menjadi pembuat logistik telekomunikasi terbesar di dunia. Sayangnya, kiprah Huawei harus terhenti, zaman Inggris tengah bersiap membangun jaringan 5G.  

Meski telah diblokir sebab pemerintah Inggris, sejauh ini Huawei tak patah semangat. Edward Brewster, juru cakap Huawei, berharap Pemerintah Inggris sedia mengkaji ulang pemblokiran Huawei sejak proyek jaringan 5G.

“Kami mengimbau Negeri Inggris untuk meninjau kembali keputusannya. Selama 20 tahun, Huawei tetap fokus untuk membangun jaringan telekomunikasi Inggris yang terhubung dengan benar baik, ” ujar Edward.